tidak ada yang bisa mengerti aku, disini aku merasa harus berjuang sendiri, untuk mendapatkan cintaku cinta sejatiku, Lely ku, aku merasa aku harus memusnahkan mereka semua yang berdiri dihadapanku dan yang menentangku. Aku sudah tidak tahan lagi, semalam ketika aku pulang, setelah aku menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan Lely, mereka berdua menjadi sangat memuakan, menyebalkan, terutama papa. Aku maklum dengan mama, aku memang salah tidak memberitahu mereka dahulu akan rencanaku pergi dengannya. Tapi papaku, aku sangat tidak suka dengan sindirannya, dan aku merasa tadi malam jika aku masih mendengar papa dengan sindiran brengseknya tersebut atau malah menggelar sidang dengan mama, aku merasa bisa menghabisi papa saat itu juga, tepat dimana dia berdiri, tanpa dia sadari!
Allah aku merasa sangat lelah dengan semua ini, Engkau tahu bahwa aku sangat mencintai Lely, Engkau juga tahu bagaimana baiknya Lely, bagaimana cocoknya Lely denganku. Hanya karena aku memberitahu pembantu keparat itu kalau aku ke Pradah bersama Lely, orang-orang Pradah langsung gempar. Padahal sebelumnya Bu Rum malah sering menyuruh aku untuk bilang saja kepada mama, bila mama menanyaiku. Dan sekarang apa bedanya dengan aku bilang ke babu gila itu ? Apa bedanya ? Apa keluarga Pradah sangat pengecut sekali? Hanya karena aku sudah cerita ke Mak Ti, dan mereka jadi gempar? Mana semangatnya bu Rum yang waktu itu malah menyuruhku untuk bilang saja ke mama kalo waktu itu aku memang pergi bersama Lely ke Pradah Permai ? Mana mereka semua berubah mejadi pengecut.
Apakah itu typicalnya keluarga Singgih? Seperti kasus-nya Mas Roy ketika sekolahnya gagal, mas Roy yang disalahkan mengapa di memilih jurusan tehnik kalo memang itu sulit padahal menurut Roy papa lah yang waktu itu memaksakan Mas ku untuk masuk tehnik, dia sebelumnya menginginkan masuk jurusan fakultas Ekonomi, mama malah menyarankan masuk Elektro. Padahal mas Roy tidak suka elektro, karena dia tahu dia tidak mampu dengan elektro. Dan papa pengecutnya menyalahkan mas Roy kenapa memilih masuk jurusan tehnik.
Ya Allah tolonglah hambamu ini yang sangat caapek menghadapi mereka, bantulah aku, buatlah mereka mengerti dengan pilihanku ini aku merasa sangat lelah. Tolong beritahu aku kemana aku harus melangkah lagi kemana aku harus mencari dukungan lagi, apakah tidak ada lagi orang yang berani membelaku didepan para MONSTER ini ? Aku hanya berusaha mendapatkan cintaku, cinta sejatiku, aku tidak ingin merampok harta mereka, aku hanya ingin Lely di terima diantara mereka para MONSTER sebagai individu yang bisa menetralisir terhadap pengaruh mereka. Aku barusan sadar, bahwa kenapa aku merasa sangat malas dengan kuliahku kenapa kuliah yang sangat gampang ini menjadi sangat sulit bagiku akhir-akhir ini? Aku hanya berpikir, seandainya mereka menyetujui hubunganku dengan Lely, aku bakal merasa sangat ringan, aku yakin bisa menyelesaikan kuliahku dengan baik, dan cepat, aku merasa bahwa beban terberat selama lebih dari 3 tahun ini bakal sirna, aku akan mendapat semangat baru, karena aku yakin masalah utama telah terselesaikan, tinggal kuliahku saja, dan aku pasti bisa berkonsentrasi dengan baik, aku bisa terfokus kepada kuliah karena aku sudah tidak perlu lagi memikirkan kenapa mereka tidak mau menyetujui hubunganku dengan Lelyku yang manis...
Dia adalah malaikatku, ke beteanku selama dirumah akan sirna setiap kali aku bisa bertemu dengannya. Dia adalah obat paling manjur untuk stress di rumah. Dia adalah cintaku yang selama ini mama papa tidak pernah memberiku cinta. Mereka hanya memberi materi, hujatan, umpatan, hinaan, cemoohan, bentakan, caci makian. Mereka tidak pernah menghargai setiap tindakan, atau hal baik yang pernah kulakukan. Aku tahu mereka tidak pernah bisa se eskpresif aku dengan Lely bila kita saling menyatakan bahwa kita menyukai satu sama lain. Tapi setidaknya, tumbuhkanlah kepercayaanku bila mereka memang sayang kepadaku tidak dengan materi saja.
Seperti buku harian saja, mama malah sering mengolok-olokku bila dia menemukan buku harianku, dan apabila didalamnya terdapat tulisan-tulisan yang mungkin mama tidak menyukainya. Mama menganggap bahwa buku harian itu terlalu melankolis, lemah, terlalu mendramatisir. Hanya diperuntukan bagi orang pengecut, yang tidak berani secara jantan menyelesaikan masalah mereka masing-masing sehingga harus di tulis di buku harian. Padahal buku harian bagiku sangat penting untuk orang-orang sepertiku dimana lingkungan sekitar tidak bisa menjadi teman berbicara yang baik, yang mau mendengarkan memberi saran yang baik.
Mereka bisanya cuman menghujat. Bila mereka di curhati suatu saat bahan curhatan itu di gunakan untuk menyerangku balik, untuk mengolok-olok. Aku tidak mengerti, mengapa mereka cenderung suka menghina orang lain, melecehkan harga diri orang lain. Ketika aku kecil aku merasa sangat tidak berdaya, aku hanya menganggap bahwa aku salah dan mereka yang selalu benar. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan, dan akhirnya terbentuk suatu sugesti permanen bahwa aku memang pengacau bodoh, tidak akan bisa berhasil menjadi orang, bakal jadi pengemis, sampah masyarakat. Sampai suatu ketika, aku bertemu dengan guru hebat. Beliau bukan guru filsafat, atau guru agama beliau hanya guru musik hebat yang bisa menumbuhkan semangatku kembali. Cara beliau menyatakan bahwa aku bisa, aku mampu dan aku pintar, tidak bodoh seperti apa para MONSTER katakan, sehingga aku Bisa bangkit kembali.
Hari ini sebelum aku berangkat ke Lely lagi, papa menghentikanku sementara. Hmmm...lagi-lagi papa minta pengakuan bahwa dia adalah kepala rumah tangga di rumah ini, dia adalah kapten dari kapal bobrok ini, dia merasa aku tidak menganggap dia sebagai kepala rumah tangga di rumah ini. Memang, ayah macam apa sih dia. Lagi pula, lucu sekali, papa bagaikan kacang lupa kulitnya. Apa dia dulu tidak ingat, asalnya, di mana rumahnya, daerah Perak, daerah kampung, dan tentunya papa adalah anak kampung khan? Hanya karena dia mendapatkan mama yang aku pasti tahu, mama dulu pasti adalah anak manja, cewek sendiri. Aku nggak pernah percaya bahwa mama dulu pernah sengsara seperti aku saat ini, apalagi dia cewek sendiri, pasti banyak yang mengalah lah. Hanya karena dia mendapatkan mama, terus sekarang dia memperlakukan seenaknya seperti itu kepadaku.
Aku tahu bagaimana hebatnya papa berjuang demi meraih gelar sarjananya. Terus dia bilang bahwa ibu kandungku pernah ditantang oleh papa kalau dia mempunyai solusi yang lebih baik tentang aku, silahkan. Tetapi ibu tidak mempunyai jawabanya. Terus papa menganggap ibu telah lari karena tidak bisa bertanggung jawab. Jelas ibu tidak bisa bertanggung jawab lagi terhadapku. Aku memang sudah bukan milik dia lagi. Aku marah sekali dengan papa. Laki-laki macam apa sih dia itu, harusnya dia ingat dengan asal-usulnya, jangan karena dia telah mendapatkan wanita keturunan ningrat tapi manja seperti mama, terus dia merasa telah naik peringkatnya. Orang kampung seperti papa itu tidak akan pernah bisa berubah derajatnya. Hanya karena istrinya orang ningrat manja.
Ya Allah maafkan aku bila aku mejadi anak durhaka. Aku akui, bahwa aku tidak pernah merasakan sayang cinta dari mereka. Semua yang aku rasakan dari mereka hanya makian penderitaan, hujatan, mereka tidak pernah bisa menghargai orang lain, meskipun itu anak mereka sendiri. Ah.. aku lupa aku bukan anak mereka, mereka tidak pernah ikut nimbrung dalam proses keberadaanku. Mama tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya melahirkan aku. Dia bukanlah ibuku yang ikut melahirkan diriku di dunia ini. Akhir-akhir ini aku merasa muak sekali dengan mereka.
Yah... mereka mulai menjodoh-jodohkan aku dengan orang lain yang jauh lebih jelek dari Lely. Sangat jauh, dan yang paling memuakan adalah ketika teman-teman mereka terkejut dengan wujudku yang mencengangkan. Mereka heran, kenapa aku bisa mempunyai tubuh sebesar ini, dengan muka yang bisa dikatakan membuat semua mata memandangku. Lucu. Yah... lucu sekali, seperti seseorang meminjam mobil mewah temanya dan dipamerkan kepada pacarnya dan mengklaim bahwa mobil itu adalah miliknya !!!! Imagine That !!! Aku benar-benar muak dengan semua itu, ingin muntah rasanya ketika aku harus pura-pura tersenyum bangga ketika para orang-orang tua itu memuji penampilanku. Mereka sungguh pintar bila mejadi pembohong besar. Aku bukanlah milik mereka yang patut mereka banggakan, aku bukan milik mereka. Hanya karena usaha mereka membesarkanku ketika aku masih kecil, yang katanya aku anak urip-uripan yang sakit-sakitan, dan bagaimana usaha mereka merawatku. Aku tidak akan pernah berterima kasih kepada mereka tentang hal ini. Nah... betulkan aku sudah menjadi anak durhaka.
Tommy yang sekarang ini sudah berubah. Aku tidak perlu berterima kasih kepada mereka karena sudah membesarkanku, aku tidak sudi. Bunuh saja aku, aku lebih senang apabila dulu aku tidak diambil mereka. Bah.. mati pun aku lebih senang, daripada aku tetap hidup, beranjak dewasa dan merasa sangat sengsara. Aku lebih memilih mati dari pada hidup, bila aku bisa mengulang waktu. Aku sangat membenci mereka. Aku sangat membenci mereka, orang-orang munafik. Mama papa memang orang munafik kelas kakap, lebih hebat dari Soeharto!!!!
Aku tahu bahwa mas Roy mempunyai permasalahan yang lebih berat dariku. Aku terima bila ada yang mengataiku bahwa aku orang yang tidak pernah bersyukur, tidak tahu terima kasih, atau aku harus melihat kebawah, dimana terdapat orang-orang yang lebih susah dari pada aku. Tapi aku merasa sangat menderita. Aku menderita karena Tommy sudah menemukan cinta sejatinya. Para orang tua kolot dan egois ini tidak mengerti tentang hal itu, padahal mereka juga pernah mengalami masa muda. Seandainya mereka mau mengerti bagaimana aku mencintai Lely begitu juga dengan Lely sangat mencintaiku, dan mau menyetujui hubungan kita, aku yakin kuliahku akan selesai dengan cepat. Atau setidaknya aku bisa lebih tenang, dan bisa menjadi semangat pendorong yang kuat agar aku bisa lebih fokus kepada kuliah.