Friday, June 05, 2026

About Lely

About Lely

Lely, adalah seorang wanita yang sempurna bagiku. Hari-hariku bersamanya bagaikan memandang sepasang beruang sedang bergurau dengan pasangannya di padang rumput hijau. Lucu, kenapa kok aku memilih beruang ? Aku sendiri tidak mengerti, padahal aku tahu bahwa bersama dengannya setiap hari adalah sesuatu yang indah bagiku, terutama bagi semua pria dengan pasangan mereka tentunya.

Mengapa aku senang bersamanya.... sangat sulit sekali menjelaskanya tetapi apa yang aku rasakan sepertinya aku bisa melarikan diri sejenak terhadap orang tuaku.
Lely bisa membuatku merasa nyaman dengannya, meskipun dia tidak mempunyai rumah besar peniggalan kakek nenek dari jaman Belanda seperti rumahku, aku merasa sangat nyaman berada disana. Ketika aku berada disana dan dia sedang pergi ke suatu tempat, suasananya bisa sangat berbeda sekali. Tentu saja aku bisa mengobrol dengan ibunya, atau dengan orang-orang sekitar yang sudah sangat mengenalku selama lebih dari 3 tahun ini. Tetapi tanpanya aku benar-benar tidak nyaman, terutama bila aku harus menunggunya agak lama, terkadang aku bisa sangat emosi. 

Keegoisanku selalu muncul bila aku harus menuggu dia dengan waktu lama.
Aku tahu bahwa perasaanku itu tidak seharusnya aku ungkapkan kepadanya ketika Lely telah datang, aku tidak berhak memarahinya, aku tahu aku salah bila aku memarahinya. Tetapi sering Lely masih dengan sabar mau mendengar kemarahanku, menerima kemarahanku, kekesalanku ketika aku harus menuggunya. Dan sering malah dia minta maaf apabila dia datang pulang terlambat. Aku heran setelah ada kejadian pertengkaran kita yang ujung-ujungnya Lely ingin putus dariku, dia sekarang sangat lebih mencintaiku. Dia rela meninggalkan kuliah, mengajar, hanya karena aku akan datang kerumahnya. Aku merasa sangat nyaman bersamanya. Ketika aku habis kuliah dan aku ingin bertemu dengannya, padahal dia sudah bilang bahwa aku tidak perlu datang kerumah-nya hari itu, dan aku mengontak hpnya dan dia memperbolehkan aku datang. Padahal saat itu dia akan berangkat mengajar. Dia mau menerimaku, padahal dia akan berangkat kerja. Dan ketika aku datang dengan tubuh terasa capek, penat, aku merasa sangat lemas, dan Lely langsung menanganiku dengan baik, layaknya dia itu seperti benar-benar sudah menjadi istriku dan aku suaminya. 

Oleh karena itu aku benar-benar sangat mencintainya. Terlalu mencintai mungkin... Dan kelihatannya cintaku kepadanya lebih mengarah kepada cinta yang posesif. Aku tahu itu salah, karena jika manusia mencintai sesuatu dengan berlebihan meskipun itu manusia, maka Allah akan menjauhkan dia dengan hal yang yang sangat dia cintai itu. Atau mungkin mengambil kembali, karena semua itu asal-nya dari Allah. Kesannya Allah seperti cemburu, tetapi itulah kenyataanya kita sebagai hamba Allah, tidak diperbolehkan terlalu mencintai sesuatu. Dan hal yang paling aku takutkan adalah aku takut kehilangan dia, baik aku diputus oleh Lely, atau Allah memanggilnya. Untuk yang terakhir ini aku sering melihat di film-film drama, bagaimana seorang lelaki kehilangan pasangan yang sangat dicintainya. Dan disana digambarkan bagaimana menderitanya lelaki itu menjalani kehidupan sehari-harinya tanpa wanita yang dicintainya.

31 mei 2003

tidak ada yang bisa mengerti aku, disini aku merasa harus berjuang sendiri, untuk mendapatkan cintaku cinta sejatiku, Lely ku, aku merasa aku harus memusnahkan mereka semua yang berdiri dihadapanku dan yang menentangku. Aku sudah tidak tahan lagi, semalam ketika aku pulang, setelah aku menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan Lely, mereka berdua menjadi sangat memuakan, menyebalkan, terutama papa. Aku maklum dengan mama, aku memang salah tidak memberitahu mereka dahulu akan rencanaku pergi dengannya. Tapi papaku, aku sangat tidak suka dengan sindirannya, dan aku merasa tadi malam jika aku masih mendengar papa dengan sindiran brengseknya tersebut atau malah menggelar sidang dengan mama, aku merasa bisa menghabisi papa saat itu juga, tepat dimana dia berdiri, tanpa dia sadari!

    Allah aku merasa sangat lelah dengan semua ini, Engkau tahu bahwa aku sangat mencintai Lely, Engkau juga tahu bagaimana baiknya Lely, bagaimana cocoknya Lely denganku. Hanya karena aku memberitahu pembantu keparat itu kalau aku ke Pradah bersama Lely, orang-orang Pradah langsung gempar. Padahal sebelumnya Bu Rum malah sering menyuruh aku untuk bilang saja kepada mama, bila mama menanyaiku. Dan sekarang apa bedanya dengan aku bilang ke babu gila itu ? Apa bedanya ? Apa keluarga Pradah sangat pengecut sekali? Hanya karena aku sudah cerita ke Mak Ti, dan mereka jadi gempar? Mana semangatnya bu Rum yang waktu itu malah menyuruhku untuk bilang saja ke mama kalo waktu itu aku memang pergi bersama Lely ke Pradah Permai ? Mana mereka semua berubah mejadi pengecut. 

    Apakah itu typicalnya keluarga Singgih? Seperti kasus-nya Mas Roy ketika sekolahnya gagal, mas Roy yang disalahkan mengapa di memilih jurusan tehnik kalo memang itu sulit padahal menurut Roy papa lah yang waktu itu memaksakan Mas ku untuk masuk tehnik, dia sebelumnya menginginkan masuk jurusan fakultas Ekonomi, mama malah menyarankan masuk Elektro. Padahal mas Roy tidak suka elektro, karena dia tahu dia tidak mampu dengan elektro. Dan papa pengecutnya menyalahkan mas Roy kenapa memilih masuk jurusan tehnik.

    Ya Allah tolonglah hambamu ini yang sangat caapek menghadapi mereka, bantulah aku, buatlah mereka mengerti dengan pilihanku ini aku merasa sangat lelah. Tolong beritahu aku kemana aku harus melangkah lagi kemana aku harus mencari dukungan lagi, apakah tidak ada lagi orang yang berani membelaku didepan para MONSTER ini ? Aku hanya berusaha mendapatkan cintaku, cinta sejatiku, aku tidak ingin merampok harta mereka, aku hanya ingin Lely di terima diantara mereka para MONSTER sebagai individu yang bisa menetralisir terhadap pengaruh mereka. Aku barusan sadar, bahwa kenapa aku merasa sangat malas dengan kuliahku kenapa kuliah yang sangat gampang ini menjadi sangat sulit bagiku akhir-akhir ini? Aku hanya berpikir, seandainya mereka menyetujui hubunganku dengan Lely, aku bakal merasa sangat ringan, aku yakin bisa menyelesaikan kuliahku dengan baik, dan cepat, aku merasa bahwa beban terberat selama lebih dari 3 tahun ini bakal sirna, aku akan mendapat semangat baru, karena aku yakin masalah utama telah terselesaikan, tinggal kuliahku saja, dan aku pasti bisa berkonsentrasi dengan baik, aku bisa terfokus kepada kuliah karena aku sudah tidak perlu lagi memikirkan kenapa mereka tidak mau menyetujui hubunganku dengan Lelyku yang manis...

    Dia adalah malaikatku, ke beteanku selama dirumah akan sirna setiap kali aku bisa bertemu dengannya. Dia adalah obat paling manjur untuk stress di rumah. Dia adalah cintaku yang selama ini mama papa tidak pernah memberiku cinta. Mereka hanya memberi materi, hujatan, umpatan, hinaan, cemoohan, bentakan, caci makian. Mereka tidak pernah menghargai setiap tindakan, atau hal baik yang pernah kulakukan. Aku tahu mereka tidak pernah bisa se eskpresif aku dengan Lely bila kita saling menyatakan bahwa kita menyukai satu sama lain. Tapi setidaknya, tumbuhkanlah kepercayaanku bila mereka memang sayang kepadaku tidak dengan materi saja. 

    Seperti buku harian saja, mama malah sering mengolok-olokku bila dia menemukan buku harianku, dan apabila didalamnya terdapat tulisan-tulisan yang mungkin mama tidak menyukainya. Mama menganggap bahwa buku harian itu terlalu melankolis, lemah, terlalu mendramatisir. Hanya diperuntukan bagi orang pengecut, yang tidak berani secara jantan menyelesaikan masalah mereka masing-masing sehingga harus di tulis di buku harian. Padahal buku harian bagiku sangat penting untuk orang-orang sepertiku dimana lingkungan sekitar tidak bisa menjadi teman berbicara yang baik, yang mau mendengarkan memberi saran yang baik. 

    Mereka bisanya cuman menghujat. Bila mereka di curhati suatu saat bahan curhatan itu di gunakan untuk menyerangku balik, untuk mengolok-olok. Aku tidak mengerti, mengapa mereka cenderung suka menghina orang lain, melecehkan harga diri orang lain. Ketika aku kecil aku merasa sangat tidak berdaya, aku hanya menganggap bahwa aku salah dan mereka yang selalu benar. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan, dan akhirnya terbentuk suatu sugesti permanen bahwa aku memang pengacau bodoh, tidak akan bisa berhasil menjadi orang, bakal jadi pengemis, sampah masyarakat. Sampai suatu ketika, aku bertemu dengan guru hebat. Beliau bukan guru filsafat, atau guru agama beliau hanya guru musik hebat yang bisa menumbuhkan semangatku kembali. Cara beliau menyatakan bahwa aku bisa, aku mampu dan aku pintar, tidak bodoh seperti apa para MONSTER katakan, sehingga aku Bisa bangkit kembali.

    Hari ini sebelum aku berangkat ke Lely lagi, papa menghentikanku sementara. Hmmm...lagi-lagi papa minta pengakuan bahwa dia adalah kepala rumah tangga di rumah ini, dia adalah kapten dari kapal bobrok ini, dia merasa aku tidak menganggap dia sebagai kepala rumah tangga di rumah ini. Memang, ayah macam apa sih dia. Lagi pula, lucu sekali, papa bagaikan kacang lupa kulitnya. Apa dia dulu tidak ingat, asalnya, di mana rumahnya, daerah Perak, daerah kampung, dan tentunya papa adalah anak kampung khan? Hanya karena dia mendapatkan mama yang aku pasti tahu, mama dulu pasti adalah anak manja, cewek sendiri. Aku nggak pernah percaya bahwa mama dulu pernah sengsara seperti aku saat ini, apalagi dia cewek sendiri, pasti banyak yang mengalah lah. Hanya karena dia mendapatkan mama, terus sekarang dia memperlakukan seenaknya seperti itu kepadaku. 

    Aku tahu bagaimana hebatnya papa berjuang demi meraih gelar sarjananya. Terus dia bilang bahwa ibu kandungku pernah ditantang oleh papa kalau dia mempunyai solusi yang lebih baik tentang aku, silahkan. Tetapi ibu tidak mempunyai jawabanya. Terus papa menganggap ibu telah lari karena tidak bisa bertanggung jawab. Jelas ibu tidak bisa bertanggung jawab lagi terhadapku. Aku memang sudah bukan milik dia lagi. Aku marah sekali dengan papa. Laki-laki macam apa sih dia itu, harusnya dia ingat dengan asal-usulnya, jangan karena dia telah mendapatkan wanita keturunan ningrat tapi manja seperti mama, terus dia merasa telah naik peringkatnya. Orang kampung seperti papa itu tidak akan pernah bisa berubah derajatnya. Hanya karena istrinya orang ningrat manja. 

    Ya Allah maafkan aku bila aku mejadi anak durhaka. Aku akui, bahwa aku tidak pernah merasakan sayang cinta dari mereka. Semua yang aku rasakan dari mereka hanya makian penderitaan, hujatan, mereka tidak pernah bisa menghargai orang lain, meskipun itu anak mereka sendiri. Ah.. aku lupa aku bukan anak mereka, mereka tidak pernah ikut nimbrung dalam proses keberadaanku. Mama tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya melahirkan aku. Dia bukanlah ibuku yang ikut melahirkan diriku di dunia ini. Akhir-akhir ini aku merasa muak sekali dengan mereka.

    Yah... mereka mulai menjodoh-jodohkan aku dengan orang lain yang jauh lebih jelek dari Lely. Sangat jauh, dan yang paling memuakan adalah ketika teman-teman mereka terkejut dengan wujudku yang mencengangkan. Mereka heran, kenapa aku bisa mempunyai tubuh sebesar ini, dengan muka yang bisa dikatakan membuat semua mata memandangku. Lucu. Yah... lucu sekali, seperti seseorang meminjam mobil mewah temanya dan dipamerkan kepada pacarnya dan mengklaim bahwa mobil itu adalah miliknya !!!! Imagine That !!! Aku benar-benar muak dengan semua itu, ingin muntah rasanya ketika aku harus pura-pura tersenyum bangga ketika para orang-orang tua itu memuji penampilanku. Mereka sungguh pintar bila mejadi pembohong besar. Aku bukanlah milik mereka yang patut mereka banggakan, aku bukan milik mereka. Hanya karena usaha mereka membesarkanku ketika aku masih kecil, yang katanya aku anak urip-uripan yang sakit-sakitan, dan bagaimana usaha mereka merawatku. Aku tidak akan pernah berterima kasih kepada mereka tentang hal ini. Nah... betulkan aku sudah menjadi anak durhaka. 

    Tommy yang sekarang ini sudah berubah. Aku tidak perlu berterima kasih kepada mereka karena sudah membesarkanku, aku tidak sudi. Bunuh saja aku, aku lebih senang apabila dulu aku tidak diambil mereka. Bah.. mati pun aku lebih senang, daripada aku tetap hidup, beranjak dewasa dan merasa sangat sengsara. Aku lebih memilih mati dari pada hidup, bila aku bisa mengulang waktu. Aku sangat membenci mereka. Aku sangat membenci mereka, orang-orang munafik. Mama papa memang orang munafik kelas kakap, lebih hebat dari Soeharto!!!!

    Aku tahu bahwa mas Roy mempunyai permasalahan yang lebih berat dariku. Aku terima bila ada yang mengataiku bahwa aku orang yang tidak pernah bersyukur, tidak tahu terima kasih, atau aku harus melihat kebawah, dimana terdapat orang-orang yang lebih susah dari pada aku. Tapi aku merasa sangat menderita. Aku menderita karena Tommy sudah menemukan cinta sejatinya. Para orang tua kolot dan egois ini tidak mengerti tentang hal itu, padahal mereka juga pernah mengalami masa muda. Seandainya mereka mau mengerti bagaimana aku mencintai Lely begitu juga dengan Lely sangat mencintaiku, dan mau menyetujui hubungan kita, aku yakin kuliahku akan selesai dengan cepat. Atau setidaknya aku bisa lebih tenang, dan bisa menjadi semangat pendorong yang kuat agar aku bisa lebih fokus kepada kuliah.

Tuesday, March 09, 2010

Windows 7 SP1 Release Pushed to Q4'10

Waiting for SP1 before jumping to Windows 7? It could still happen this year.

Now that Windows 7 has settled in inside consumer homes after the considerable marketing push from retail, attention is turning to Microsoft's next step in development – the first Service Pack.

Just to be extra safe, many IT professionals prefer to wait until at least the first Service Pack for a Windows version before implementing a new version of the OS into their departments. The reason is that the first massive wave of users will already have hit the OS to clear out any possible bugs and compatibility issues.

According to source of TechARP, Microsoft initially planned a 22-month development period for Windows 7 SP1 but is now looking to bump that up to a release sometime within 2010.

We've heard from various other sources that the updated target for SP1 is sometime this summer or fall, the TechARP's sources point to the last (presumably calendar) quarter of 2010. Such a release would put Windows 7's first service pack on a similar RTM-to-SP1 schedule that Windows XP and Windows Vista had.

While Microsoft hasn't detailed exactly what SP1 will bring, many expect it just to be a massive collection of the incremental patches and updates that are already presently available from Windows Update.

Tuesday, March 02, 2010

AMD 890GX Unveiled: Three Motherboards Compared

AMD’s chipsets have long provided great features for the money, especially compared to high-end platforms like X48 and X58 from its chief rival, Intel. Everything between the mid-priced (still high-end) 790FX to its more commonplace integrated-graphics products can be attractive, depending on your usage model.

The entire range provides expanded PCIe 2.0 pathways for multi-card configurations, and its integrated-graphics parts actually deliver reasonable 3D performance and an option for multi-monitor support. If you love building productivity-oriented machines at an affordable price or need the ultimate in configurability, AMD might be your best choice. After all, we've yet to be bowled over by Intel's CPU efforts between $100 and $200, while AMD continues to offer a number of compelling quad-core models.



Today’s launch focuses on two components, the 890GX northbridge with its revised Radeon HD 4290 graphics engine and the SB850 southbridge. Upgrades include DX10.1 graphics, SATA 6Gb/s, two additional USB 2.0 ports, and integrated gigabit networking.

But our emphasis here is on a trio of motherboards emerging alongside the new core logic from Asus, Gigabyte, and MSI. Note that you'll see USB 3.0 support in the pages to come. However, the 890GX platform does not natively support USB 3.0; rather, it's added via an on-board controller.



AMD Launches 6 Core CPU-ready 890GX Mobo

This board is prepped for the hexacore AMD Phenom II X6.



AMD and its motherboard partners today released the AMD 890GX Chipset, integrated with the ATI Radeon HD 4290, and are designed to be compatible with the upcoming AMD Phenom II X6 six-core processor.

The AMD 890GX Chipset supports the SATA 3.0 6Gb/s hard drive interface and many AMD 890GX-based motherboards feature SuperSpeed USB 3.0 support.

We've got our hands on the Gigabyte GA-890GPA-UD3H, the Asus M4A89GTD Pro/USB3, and the MSI 890GXM-G65. After putting them through a barrage of tests, our reviews department found that AMD’s SB850 southbridge is probably the best reason to select an 890GX motherboard over the products it replaces thanks to the new integrated SATA 6Gb/s controller.